X – Ray Sebagai Kompetensi Dasar Mahasiswa D4 TRP UNAIR

Modalitas X-ray atau biasa dikenal sinar-X, masih menjadi salah satu teknologi pencitraan medis yang paling sering digunakan hingga saat ini dalam menunjang pemeriksaan dalam dunia kesehatan. Diberbagai fasilitas layanan kesehatan, pemeriksaan X-ray berperan penting sebagai langkah awal dalam membantu tenaga medis (dokter) menegakkan diagnosa. Di lingkungan pendidikan, penguasaan teknologi X-ray menjadi fasilitas dan kompetensi dasar yang wajib dimiliki oleh mahasiswa sebagai calon radiografer profesional. khususnya di program studi D4 Teknologi Radiologi Pencitraan, Universitas Airlangga.
Bagaimana X-Ray Bekerja?
Pemahaman klinis maupun teknis dalam teknologi X-ray menjadi alasan penting mengapa teknologi ini masih digunakan hingga saat ini. Sinar X merupakan salah satu modalitas pencitraan medis yang memanfaatkan radiasi pengion yang dapat menembus jaringan tubuh yang kemudian ditangkap oleh detektor untuk dapat menghasilkan gambar anatomi tubuh manusia yang biasa disebut dengan “Citra Radiografi”. Alasan inilah yang membuat pemeriksaan X-ray sangat membantu dalam mendeteksi berbagai kondisi anatomi tubuh manusia, seperti fraktur, kelainan paru, hingga gangguan pada tulang belakang.
Dalam praktik klinis, X-ray sering menjadi pemeriksaan pertama karena prosesnya cepat dan hasilnya cukup informatif untuk banyak kasus. Seiring perkembangan teknologi, sistem X-ray berbasis film kini telah banyak digantikan oleh Computed Radiography (CR) dan Digital Radiography (DR). Perkembangan ini juga diikuti dalam kurikulum Prodi D4 Teknologi Radiologi Pencitraan, Fakultas Vokasi Universitas Airlangga, agar mahasiswa terbiasa menggunakan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.
Manfaat Besar, Tetap Ada Risiko
Paparan radiasi pengion masih memiliki risiko kesehatan secara biologis, meskipun dosis radiasi pada pemeriksaan X-ray dianggap rendah. Dua jenis efek radiasi adalah efek deterministik, yang terjadi jika dosis melewati ambang tertentu, seperti iritasi atau kemerahan pada kulit. Efek jangka panjang atau efek stokastik, merupakan risiko yang meningkat seiring bertambahnya dosis, seperti kemungkinan kanker di kemudian hari. Oleh karena itu, setiap pemeriksaan sinar-X harus selalu didasarkan pada kenyataan bahwa keuntungan pasien jauh lebih besar daripada risikonya. Prinsip ini menjadi salah satu nilai penting yang selalu ditanamkan kepada mahasiswa D4 Radiologi, sehingga membantu mereka membangun sikap profesional dan tanggung jawab terhadap keselamatan pasien.
Pentingnya Proteksi Radiasi dan Prinsip ALARA
Dalam dunia radiologi, proteksi radiasi adalah hal yang tidak bisa ditawar, tujuannya jelas, yaitu melindungi pasien, petugas, dan masyarakat dari paparan radiasi yang tidak perlu. Salah satu prinsip yang paling dikenal adalah ALARA (As Low As Reasonably Achievable), yaitu menjaga dosis radiasi serendah mungkin tanpa mengorbankan kualitas gambar untuk keperluan diagnosis.
Proteksi radiasi dalam pemeriksaan X-ray mencakup tiga prinsip utama, yaitu justifikasi, optimasi, dan limitasi dosis. Setiap pemeriksaan harus memiliki indikasi klinis yang jelas, dilakukan dengan pengaturan faktor eksposi yang tepat agar dosis tetap minimal. Hal tersebut juga disertai pembatasan dan pemantauan dosis bagi pekerja radiasi melalui dosimeter pribadi.
Penggunaan alat pelindung sangat penting seperti apron timbal, pelindung tiroid, dan pelindung gonad, terutama pada anak-anak dan wanita usia subur. Kebiasaan ini terus dilatih sejak masa pendidikan agar menjadi standar kerja radiografer dalam menjaga keselamatan pasien dan petugas.
Dari Pembelajaran Teori ke Praktik
Dalam kurikulum D4 Teknologi Radiologi Pencitraan UNAIR, mahasiswa tidak hanya dibekali teori, tetapi juga praktik langsung di laboratorium dan klinik. Melalui kegiatan ini, mahasiswa dilatih mengoperasikan pesawat X-ray, mengatur faktor eksposi, serta menerapkan prinsip proteksi radiasi secara tepat sesuai standar keselamatan. Penerapan prinsip ALARA menjadi bagian penting dalam setiap latihan, sehingga mahasiswa terbiasa menjaga keseimbangan antara kualitas citra dan keselamatan pasien. Selain keterampilan teknis, kemampuan berkomunikasi dengan pasien juga dikembangkan agar proses pemeriksaan dapat berjalan dengan aman, nyaman, dan sesuai prosedur. Dengan bekal tersebut, penguasaan kompetensi dasar X-ray menjadi fondasi penting sebagai calon radiografer profesional, terampil dan bertanggung jawab terhadap keselamatan pasien dan petugas.